BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Beberapa kali, siswa dari Indonesia
memenangkan ajang kompetisi matematika ataupun mata pelajaran lainnya. Bahwa
itu adalah sebauah prestasi, kita tidak bisa memungkiri. Tetapi kita juga tidak
bisa menutup mata terhadap kenyataan sesungguhnya. Para pemenang kompetisi itu
bukanlah siswa yang bisa mewakili kemampuan siswa Indonesia pada umumnya. Dalam
artian, kesenjangan antara para siswa pemenang kompetisi internasional itu
dengan kebanyakan siswa di Indonesia sangatlah besar.
Apalagi pada saat ini mutu
pendidikan di indonesia sangat memperhatikan. Khususnya matematika,
Terlebih lagi hingga saat ini matematika masih merupakan monster yang sangat
menakutkan bagi sebagian besar siswa.
Matematika sebagai induk dari ilmu pengetahuan, seharusnya tidak ditakuti. Dan memang tidak ada yang perlu ditakutkan dari matematika.
Matematika sebagai induk dari ilmu pengetahuan, seharusnya tidak ditakuti. Dan memang tidak ada yang perlu ditakutkan dari matematika.
Permasalahan ini tidak bisa hanya
dilihat dalam satu sudut pandang saja. Maksudnya Kita tidak boleh menilai
dilema mutu pendidikan matematika ini hanya disebabkan oleh matematika yang
sulit.
Jika sudut pandang kita tentang
matematika telah diluruskan, maka yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah
menentukan pendekatan apa saja yang paling efektif untuk pembelajaran
matematika tertentu, bagaimana palikasinya dalam aktivitas pembelajaran, dan
bagaimana metode pengujiannya.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini
adalah :
1. Pengertian pembelajaran matematika
dengan pendekatan realistik
2. bagaimana pembelajaran matematika
dengan pendekatan realistik
1.3Tujuan
1. Mengetahui pengertian pembelajaran
matematika dengan pendekatan realistik
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pembelajaran Matematika
Realistik
Pembelajaran matematika realistik
adalah padanan Realistic Mathematics Education (RME), sebuah pendekatan
pembelajaran matematika yang dikembangkan di frudenthal di belanda. Gravemeijer
(1992:82) mengungkapkan Realistic mathematics education is rooted in
freudenthal’s interpretation of mathematicsas an activity.
Ungkapan Gravemeijer di atas
menunjukkan bahwa pembelajaran matematika realistik dikembangkan berdasar
pandangan Freudenthal yang menyatakan matematika sebagai suatu aktivitas. Lebih
lanjut Gravemeijer (1994: 82) menjelaskan bahwa yang dapat digolongkan sebagai
aktivitas tersebut meliputi aktivitas pemecahan masalah, mencari masalah dan
mengorganisasi pokok persoalan. Menurut Freudenthal aktivitas-aktivitas itu
disebut matematisasi.
Pendidikan matematika realistik (
RME ) diketahui sebagai pendekatan yang telah berhasil di Netherlands. Salah
satu filososfi yang mendasari pendekatan realistik adalah bahwa
matematika bukanlah satu kumpulan aturan sifat- sifat yang sudah lengkap yang
harus siswa sadari .Menurut Treffers ( dalam Fauzan, 2002: 33-34 )
mengungkapakan bahwa ide kunci dari pembelajran matematika realistik yang
menekankan perlunya kesempatan bagi siswa untuk menemukan kembali matematika
dengan bantuan orang dewasa ( guru ). Selain itu disebutkan pula bahwa
pengetahuan matematika formal dapat dikembangkan ( ditemukan kembali ) berdasar
pengetahuan informal yang dimiliki siswa.
Pernyataan-pernyataan yang
dikemukakan di atas menjelaskan suatu cara pandang terhadap pembelajaran matamatika
yang ditempatkan sebagai suatu proses bagi siswa untuk menemukan sendiri
pengetahuan matematika berdasar pengetahuan informal yang dimilikinya. Dalam
pandangan ini matematika disajikan bukan sebagai barang “jadi” yang dapat
dipindahkan oleh guru ke dalam pikiran siswa.
Terkait dengan aktivitas matematisasi dalam belajar matematika, Freudenthal (dalam Panhuizen, 1996: 11) menyebutkan dua jenis matematisasi yaitu matematisasi horisontal dan vertikal dengan penjelasan seperti berikut ini.
Pernyataan di atas menjelaskan bahwa matematisasi horisontal menyangkut proses transformasi masalah nyata/ sehari-hari ke dalam bentuk simbol.
Terkait dengan aktivitas matematisasi dalam belajar matematika, Freudenthal (dalam Panhuizen, 1996: 11) menyebutkan dua jenis matematisasi yaitu matematisasi horisontal dan vertikal dengan penjelasan seperti berikut ini.
Pernyataan di atas menjelaskan bahwa matematisasi horisontal menyangkut proses transformasi masalah nyata/ sehari-hari ke dalam bentuk simbol.
Sedangkan matematisasi vertikal
merupakan proses yang terjadi dalam lingkup simbol matematika itu sendiri.
Contoh matematisasi horisontal adalah pengidentifikasian, perumusan dan
pemvisualisasian masalah dengan cara-cara yang berbeda oleh siswa. Sedangkan
contoh matematisasi vertikal adalah presentasi hubungan-hubungan dalam rumus,
menghaluskan dan menyesuaikan model matematika, penggunaan model-model yang
berbeda, perumusan model matematika dan penggeneralisasi.
Pendekatan RME ini didasari oleh
fakta bahwa matematika bukanlah stau kumpulan aturan atau sifat-sifat yang
sudah lengkap yang harus siswa pelajari. Freudenthal ( dalam TIM MKPBM,
2001:125) menyatakan “matematika bukan merupakan suatu objek yang siap – saji
untuk siswa, melainkan bahwa matematika adalah “suatu pelajaran yang dinamis
yang dapat dipelajari dengan cara mengerjakannya.
Adapun Matematika realistik (MR)
adalah matematika yangdisajikan sebagai suatu proses kegiatan manusia,
bukan sebagai suatu produk jadi. Bahan pelajaran yang disajikan melalui bahan
cerita yang sesuai dengan lingkungan siswa (kontekstual) (Zigma Edisi, 14, 12
Oktober 2007).
Sedangkan pendapat lain menyatakan
bahwa Realistic Mathematics Education (PMR) merupakan teori belajar mengajar
dalam pendidikan matematika.
Menurut Soedjadi (2001: 3)
pembelajaran matematika realistik mempunyai beberapa karakteristik sebagai
berikut:
1. Menggunakan konteks, artinya dalam
pembelajaran matematika realistik lingkungan keseharian atau pengetahuan yang
telaha dimiliki siswa dapat dijadikan sebagai bagian materi belajar yang
kontekstual bagi siswa.
2. Menggunakan model, artinya
permasalahan atau ide dalam matematika dapat dinyatakan dalam bentuk model,
baik model dari situasi nyata maupun model yang mengarah ketingkat abstrak.
3. Menggunakan kontribusi siswa,
artinya pemecahan masalah atau penemuan konsep yang didasarkan pada sumbangan
gagasan siswa.
4. Interaktif, artinya aktivitas proses
pembelajaran dibangun oleh interaksi siswa,siswa dengan guru. Siswa dengan
lingkungannya dan sebagainya.Intertwin,artinya topik – topik yang berbeda dapat
diintegrasikan sehingga dapat memunculkan pemahaman tentang sustu konsepsecara
serentak.
Dengan mengkaji secara mendalam
prinsisp dan karakteristik pembelajaran matematika realistik tampak bahwa
pendekatan ini dikembangkan berlandaskan pda filsafat kontruktivisme. Paham ini
berpandangan bahwa pengetahuan dibangun sendiri oleh orang yang belajar
secara aktif. Penanaman sustu konsep tidak dapat dilakukan dengan
mentransferkan konsep itu dari satu orang ke orang lain. Tetapi seseorang yang
sedang belajar semestinya diberi keleluasaan dan dorongan untuk mengekspresikan
pikirannya dalam mengkonstruk pengetahuan itu untuk dirinya sendiri. Aktivitas
ini dapat terjadi dengan cara memberikan permasalahan kepada siswa.
Permasalahan tersebut adalah permasalahan yang telh diakrabi siswa dalam
kehidupannya. Sebagai akibat dari peningkatan aktivitas siswa dalam
pembelajaran matematika realistik adalah berkurangnya domminasi guru. Dalam
pendekata ini guru lebih berfungsi sebagai fasilitator.
Langkah – langkah pembelajaran matematika realistik
adalah :
Meninjau karekteristik interaktif
dalam pembelajran matematika realistik diatas tampak perlu sebuah rancangan
pembelajaran yang mampu membangun interaksi antara siswa dengan siswa,siswa
dengan guru , dan siswa dengan lingkungannya.
Dalam hal ini, Asiki (2001:3)
berpandangan perlunyaguru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengkomunikasikan ide- idenya melalui persentasi individu, kerja kelompok,
diskusi kelompok,maupun diskusi kelas. Negoisasi dan evalusi sesama siswa dan
juga denga guru adalah faktor belajar yang penting dalam pembelajran
konstruktif ini.
Implikasi dari adanya aspek sosial
yang cukup tinggi dalam aktivitas belajar siswa tersebut maka guru perlu
menentukan metodemengajar yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan tersebut.
Salah satu metode mengajar yang dapat memnuhi tujuan tersebut adlah
memasukkan kegiatan diskusi dalam pembelajaran siswa. Aktivitas diskusi
dipandang mampu mendorong dan melancarkan interaksi antara anggota kelas.
Menurut kemp (1994:169) diskusi
adalah bentuk pengajaran tatap muka yang paling umum dugunakan untuk saling
tukar informasi, pikiran dan pendapat. Lebiha dari itu dalam sebuah diskusi
proses belajar berlangsung tidak hanya kegiatan yang bersifat mengingat
informasi belaka, namun juga memungkinkan proses berfikir secara
analisis,sintesis dan evaluasi. Selanjutnya perlu pula ditentukan bentuk
diskusi yang hendak dilaksanakan dengan mempertimbangkan kondisi kelas yang
ada. Karena pembelajran dalam rangka penelitian ini dilaksanakan dalam sebuah kelas
yang pada umumnya beranggotakan 40 sampai 44 dengan penempatan siswa yang sulit
untuk memebentuk kelompok diskusi besar, maka interaksi antar siswa dimunculkan
melalui diskusi kelompok kecil secara berpasangan selain diskusi kelas.
2.2 Inovasi Pembelajaran
Matematika
Romberg ( 1992 ) mengtakan bahwa
dalam pendidikan khususnya dalam pendidikan matematika, individu atau kelompok
dapat membuat suatu produk baru untuk memperbaiki suatu pembelajaran, produk
ini mungkin berupa produk materi pembelajaran baru,teknik pembelajaran baru,
ataupun program pembelajaran baru. Ada empat tahap utama dalam
pengembangan ini yaitu : desain hasil, kreasi hasil, im[plementasi hasil, dan
penggunaan hasil.
Bentuk inovasi tersebut
dimaksudkanuntuk mengoptimalkan hasil proses belajar mengajar, yang ditandai
dengan meningkatnya kemampuan siswa dalam menyerapa konsep – konsep , prosedur
dan algoritma matematika.
Pengembangan pembelajaran matematika
dengan pendekatan realistik merupakan salah satu usaha meningkatkan kemampuan siswa
memahami matematika. Usaha – usaha ini dilakukan sehubungan dengan adanya
perbedaan’ materi’ yang dicita- citakan oleh kurikulum tertulis (intented
curriculum) dengan ‘materi yang diajarkan’ (implemented curriculum), serta
perbedaan antara ‘materi yang diajarkan’ dengan materi yang di pelajari siswa
(realised curriculum) (Niss,1996).
2.3 Pendekatan Realistik di
antara Pendekatan Lainnya dalam Pendidikan Matematika
Secara umum terdapat empat
pendekatan pembelajaran matematika yang dikenal, Treffers (1991) membaginya
dalam mechanistic, structuralistic, emperistic, dan realistic.
Menurut filosofi mechanistic bahwa
manusia ibarat komputer, sehingga dapat diprogram dengan cara drill untuk
mengerjakan hitungan atau olgaritma tertentu dan menampilkan aljabar pada level
yang paling sederhana atau bahkan mungkin dalam penyeleasaian geometri
serta berbagai masalah, membedakan dengan mengenali pola – pola dan proses yang
berulang – ulang.
Dalam filosofi sructuralistic, yang
secara historis berakar pada pengajaran geometri tradisional, bahwa matematika
dan sistemnya terstruktur secara baik. Manusia dengan kemuliannya, belajar
dengan pandangan dan pengertian dalam berbagai rational, ia diangap sanggup
menampilkan deduksi –deduksi yang lebih efisien dengan cara menggunakan subjek
materi sistematik dan terstruktur secara baik.
Menurut filosofi empiristik bahwa
dunia adalah kenyataan. Dalam pandangan ini,kepada siswa disediakan berbagai
material yang sesuai dengan dunia kehidupan para siswa. Para siswa mendapatkan
kesempatan untuk mendapatkan pengalamanyang berguna, namun sayangnya para siswa
tidak dengan segera mensistemasikan dan merasionalkan pengalaman.
Dalam filosofi realistic, kepada
siswa diberikan tugas- tugas yang mendekati kenyataan, yaitu yang dari dalam siswa
akan memperluas dunia kehidupannya. Kemajuan individu maupun kelompok dalam
proses belajar- seberapa jauh dan seberapa – cepat – akan menentukan spektrum
perbedaan dari hasil belajar dan posisi individu tersebut.
2.4 Prinsip – prinsip Pembelajaran
Realistik
Terdapat lima prinsip utama dalam ‘ kurikulum’ matematika
realistik:
1. Didominasi oleh masalah- masalah
dalam konteks, melayani dua hal yaitu sebagai sumber dan sebagi terapan konsep
matematika.
2. Perhatian diberikan pada
pengembangan model –model, situasi, sikema,dan simbol –simbol.
3. Sumbangan dari para siswa, sehingga
siswa dapat membuat pembelajaran menjadi konstruktif dan produktif, artinya
siswa memproduksi sendiri dan mengkonstruksi sendiri ( yang mungkin berupa
algoritma, rule atau aturan), sehingga dapat membimbing para siswa dari level
matematika informal menuju matematika formal.
4. Interaksi sebagai karakteristik dari
proses pembelajaran matematika
5. ‘intertwinning’ ( membuat jalinan
) antar topik atau antar pokok atau antar strandt
2.5 Pertimbangan Menggunakan
Pendekatan Realistik
Pada dasarnya pendekatan realistik
membimbing siswa untuk “ menemukan kembali” konsep – konsep matematika yang
pernah ditemukan oleh paera ahli matematika atau bila memungkinkan siswa dapat
menemukan sama sekali hala yang belum pernah di temukan. Ini dikenal sebagai
guided reinvention (Freudenthal,1991).
Implementasi pembelajaran matematika
dengan pendekatan dilakukan oleh mahasiswa yang telah memahami bagaimana
pembelajaran realistik disampaikan, dan bagaimana prinsisp – prinsip
pembelajaran realistik dilakukan.
Dikaitkan dengan prinsip- prinsip
pembelajran dalam pendekatan matematika realistik. Berikut ini merupakan rambu-
rambu penerapannya:
1. Bagaimana “ guru “ menyampaikan
matematika kkontekstual sebagi starting point pembelajaran
2. Bagaimana “ guru “ menstimulasi,
membimbing, dan memfasilitasi agar prosedur, algoritma, simbol, skema, dan
model yang dibuat oleh siswa mengarahkan mereka untuk sampai kepada matematika
formal
3. Bagaiman “ guru “ memberi atau
mengarahkan kelas, kelompok, maupun individu untuk menciptakan free production,
menciptakan caranya sendiri dalam menyelesaikan soal atau menginterpretasikan
problem kontekstual, sehingga tercipta berbagai macam pendekatan, atau metode
penyelesaian, atau algoritma
4. Bagaiaman “ guru “ membuata kelas
bekerja secara interaktif sehingga terjadi interaksi diantara mereka antara
siswa dengan siswa dalam kelompok kecil dan antrata anggota- anggota kelompok
dalam prestasi umum, serta antara siswa dan guru
5. Bagaimana guru membuat jalinan
antara topik dengan topik lain, antara konsep dengan konsep lain, dan antara
satu simbol denngan simbol yang lain didalam rangkain topik matematika.
Pendekatan realistik perlu
dipertimbangkan untuk dijadikan alternatif dalam pembelajarn matematika. Namun
perlu diingta bhawa masalah kontekstual yang diungkapkan tidak selamanya
berasala dari aktivitas sehari – hari, melainkan juga bis dari konteks yang
dapat di- imajinasika dalam pikiran siswa.
2.6 Contoh desain pembelajaran
menggunakan pendekatan realistik matematika
Berapa takar ( suntikan) banyaknya
minyak wangi dari satu botol besar ? Jelaskan !
8
X =
=
=
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pembelajaran matematika realistik
adalah padanan Realistic Mathematics Education (RME), sebuah pendekatan
pembelajaran matematika yang dikembangkan di frudenthal di belanda. Gravemeijer
(1992:82) mengungkapkan Realistic mathematics education is rooted in
freudenthal’s interpretation of mathematicsas an activity.
Adapun Matematika realistik (MR)
adalah matematika yang disajikan sebagai suatu proses kegiatan manusia,
bukan sebagai suatu produk jadi. Bahan pelajaran yang disajikan melalui bahan
cerita yang sesuai dengan lingkungan siswa (kontekstual) (Zigma Edisi, 14, 12
Oktober 2007).
Sedangkan pendapat lain menyatakan
bahwa Realistic Mathematics Education (PMR) merupakan teori belajar mengajar
dalam pendidikan matematika.
Untuk mengoptomalkan hasil belajar
mengajar, Romberg mengemukakan inovasi produk baru untuk memperbaiki suatu
pembelajaran, produk ini mungkin berupa produk materi pembelajaran baru, teknik
pembelajaran baru, ataupun program pembelajaran baru. Ada empat tahap utama
dalam pengembangan ini yaitu : desain hasil, kreasi hasil, implementasi
hasil, dan penggunaan hasil.
3.2. Saran
1. Untuk lebih lanjut penulis
akan lebih membahas yang lebih mendalam lagi sehingga akan lebih banyak lagi
pengetahuan dalam masalah sistem pembelajaran matematika dengan pendekatan
realistik
2. Diharapkan kepada semua calon
pendidik agar dapat mempunyai strategi yang matang dan lebih luas lagi dengan
materi yang cukup dalam melaksanakan pembelajaran.
Kepada pembaca agar dapat
menjadikannya sebagai bahan referensi
DAFTAR RUJUKAN
Surahman, dkk, 2001. Strategi
pembelajaran matematika kontemporer.dika: bandung
http://anyafm.multiply.com/journal/item/10